Berita

Perlakuan Adil Kyai Terhadap Ajudan

Menjadi orang-orang terdekat seorang pejabat publik memang memiliki seni tersendiri. Suka dan duka dalam perjalanan tugasnya menjadi potret kehidupan tersendiri.

Dikutip dari depok.go.id. Beberapa waktu lalu dalam sebuah acara makan malam bersama di kawasan Cimahpar Bogor, penulis dari Pemkot berkesempatan satu meja dengan Abdul Kodir Ajudan Wali Kota Depok KH Mohammad Idris. Kesempatan langka tersebut penulis manfaatkan untuk mendengarkan sharing dari sang Ajudan Wali Kota yang telah bertugas selama 3,5 tahun. Rupanya ragam peristiwa menarik dan inspiratif yang didapatkan dari sang Ajudan Wali Kota.

”Di mata Pak Kiai itu, kami yang bertugas di lingkungan terdekat beliau semua diperlakukan sama. Tak ada perbedaan sedikitpun suka maupun duka, tak ada yang di “Anak Emas” kan di mata Pak Kiai dalam menjalankan tugas,” tutur sang Ajudan membuka perbincangan malam itu.

Selama menjalankan tugas sebagai ajudan, dirinya tidak pernah diistimewakan oleh Pak Kiai (panggilan akrab ajudan ketika menjalankan tugas). Selain itu, gaya kepemimpinan dengan profil sosok sederhana, apa adanya, selalu ingin berbaur dengan kami tanpa adanya sekat antara atasan dan bawahan menjadi kesan mendalam dari sang Ajudan untuk Pak Kiai. Bahkan terkadang dirinya bersama rekan-rekan lainnya harus secara cermat menjaga jarak dan menyadari bahwa Pak Kiai itu adalah orang nomor satu di Kota Depok tercinta.

“Semenjak mengenal Pak Kiai baik pada saat masih menjabat Wakil Wali Kota hingga saat ini menjadi Wali Kota yang dipilih oleh warga Depok, tidak ada yang berubah dari sisi perilaku dan gaya kepemimpinan. Mungkin yang berubah adalah jadwal, aktifitas dan tamu Pak Kiai yang semakin padat dan beragam,” ujar pria yang juga pernah bertugas menjadi ajudan Wakil Ketua DPRD Depok Agung Witjaksono.

Selama bertugas menjadi ajudan Pak Kiai, dirinya mengaku cukup banyak berubah dan mendapat inspirasi positif dari tausiyah- tausiyah Pak Kiai. Sebagai contoh, mungkin dulu sebelum bertugas menjadi ajudan Pak Kiai, dirinya masih menunaikan ibadah salat lima waktu masih sedikit bolong-bolong. Namun kini, selain ibadah salat yang sudah rutin, ilmu tentang keagamaan dan ilmu tentang filosofi kehidupan banyak didapatkan dari Pak Kiai dengan cara serta pendekatan kekeluargaan yang begitu humanis.

”Pak Kiai begitu banyak mengajarkan kami tentang bagaimana memaknai hidup, menjadi hamba bersyukur, menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan ragam ilmu agama serta ilmu kehidupan yang bermanfaat bagi kami,” tambah ajudan yang juga warga Kecamatan Cinere.

Dalam menjalankan tugas sebagai ajudan tentu tidak lepas dari adanya kekurangan atau kesalahan yang pernah dilakukan oleh dirinya dan tim pengawalan. Namun dari pengalamannya, sosok Pak Kiai merupakan tipe pemimpin atau atasan yang selalu mempunyai cara istimewa dan jitu untuk menyadarkan kami dari kesalahan tersebut. Selain itu, sosok Pak Kiai juga adalah pemimpin dan atasan yang terbuka, mau menerima masukan dari bawahanya termasuk dari tim pengawalan.

“Abi itu (panggilan akrab ajudan dan tim jika di rumah) selalu menyediakan waktu untuk berdiskusi dengan kami, memberi kesempatan kepada kami untuk berpendapat tanpa mengenal tempat. Kadang di rumah beliau, di mobil, di kantor atau bahkan mengunjungi rumah kami dan tim untuk bersilaturahim dengan keluarga kami,” tambah ajudan.

Saat ini lanjut ajudan, sudah ada pengajian rutin anggota keluarga tim pengawalan yang biasa diisi tausiyah secara bergantian oleh Pak Kiai beserta istri Bunda Elly Farida. Kegiatan ini sebagai media silaturahim diantara keluarga kami dan keluarga Pak Kiai yang sudah berjalan sejak beliau menjabat Wakil Wali Kota hingga saat ini.

“Pak Kiai, Bunda Elly Farida, anak-anak beliau serta keluarga besar Pak Kiai sudah menganggap kami dan tim sebagai bagian dari keluarga besar beliau juga. Inilah yang mungkin menyebabkan dirinya beserta formasi tim pengawalan orang-orang terdekat Pak Kiai tidak pernah mengalami perubahan sejak Pak Kiai menjabat Wakil Wali Kota hingga kini. Kami selalu kompak untuk menjalankan tugas,” tutup Abdul Kodir sang Ajudan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *